malam itu aku sedang berusaha menemukan kembali serpihan tubuhmu dari sebuah perhitungan
jejak jengkal jari-jarimu. di sepanjang
jalan yang kau temui aku melihat
nama-namamu memasang wajah begitu murung
bersama kegembiraan yang nampak sangat janggal. kau bersandar pada sebuah
ingatan yang tak dapat kau gapai dengan percakapan yang kau dengar hampir ribuan
kilometer dari daun-daun telingamu namun malam itu pula kau melihat suara tubuh
seorang laki-laki mencuat dari pandang pengelihatanmu. langkahmu perlahan bergerak mundur
dan aku mulai mencatat isi pembicaraanmu
yang tak pernah tuntas. malam itu sabit membentuk letupan wajahnya—laki-laki itu—begitu utuh. barangkali kau hanya ingin mengencani
kesendirianmu malam itu sebab kau begitu merindukan tubuhnya yang hilang.
saat itu kau hanya mampu bertanya; mengapa sebuah perjumpaan datang begitu lembut dan pergi begitu kasar?

0 comments:
Post a Comment