/ /
"Tiap kali saya mengambil surat kabar dan menemukan gambar seorang lelaki yang merupakan gambar salah seorang dari mereka, saya akan meludahinya. Saya tahu, bahwa saya hanya menjatuhkan ludah di atas lembaran surat kabar yang saya perlukan untuk mengalasi lemari dapur. Tetapi bagaimanapun juga, saya ludahi, dan saya diamkan ludah itu sampai mengering. Setiap orang yang melihat saya meludah di atas gambar itu mungkin berfikir saya mengenal lelaki tertentu itu secara pribadi. Tidak! Saya hanyalah seorang perempuan. Dan tak seorang perempuan yang mungkin mengenal semua lelaki yang gambarnya terpampang di surat-surat kabar. Karena bagaimanapun juga, saya hanyalah seorang pelacur sukses. Dan betapapun juga suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki. Akan tetapi, semua lelaki yang saya kenal, tiap orang diantara mereka, telah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat saja: untuk mengangat tangan saya dan menghantamnya ke muka mereka. Akan tetapi karena saya seorang perempuan, saya tak pernah punya keberanian untuk menangkat tangan saya. Dan karena saya seorang pelacur, saya sembunyikan rasa takut itu di bawah lapis-lapis solekan muka saya."

Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip-prinsip sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lelaki pada umumnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka dengan menukarkan prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami. Sesuatu yang disalahgunakan. Sesuatu yang dapat dijual.

Perempaun di Titik Nol, Nawal El-Saadawi

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 fragmenhujan, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger