saya bangkit dan mematut diri
duduk, dan menghadap kaca pengilon
bagaikan badut saya berwawan muka
menatap raut wajah yang satu juga
bila saya menangis dia pun menangis
bila saya tersenyum dia pun tersenyum
lha, bila saya sewot dia pun ikut sewot
bila saya melongo dia pun melongo pula
saya buka pakaian di badan saya
tanpa kebaya, jarit, dan tanpa kutang
ah ya, saya telanjang
saya kucel-kucel penthil saya
sebagaimana Den Baguse mengucel-ngucelnya
saya uyeng-uyeng pinggul saya
sebagaimana Den Bagusen mengubeg-ubegnya
merem-meleklah mata saya
mata saya pun merem-melek
o, Dewi ratih, o, Dewa Kama
kursi tempat saya duduk
basah oleh cairan!
ndelewer dari sumber kehidupan
saya pun lepas dari ketegangan
ah, ya, saya telanjang
perut saya memang tambah gede
tapi belum juga menyolok mata
penthil saya masih ranum, kok
belum keras kayak buah mangga
dan pinggul saya masih sintal
belum mlotrok bergoyang-goyang
ah, ya, di pangkuan ini
Den Baguse Ario Atmojo biasa loyo bersandar
sehabis pergulatan yang menggebu-gebu
langit terkuak dan cakrawala tergelar
saya belai-belai rambutnya yang ikal
bagaikan saya membelai si anak nakal
saya pencet hidugnya yang mancung
karena gemas dan puas terselubung
ah, ya, tiba-tiba saya kepingin nembang
parikan yang dibawakan dalam kethoprak
dengan iringan gamelan perasaan saya
--
Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi AG

0 comments:
Post a Comment