sepagi itu aku memetik gerimis di garis wajahmu
sedangkan namamu masih mengetam lekat di atas tempat tidur
sebelum keributan membunyikan lonceng ketuhanan
dan memunculkan badut di tengah perayaan pesta kerak-kerak nasi
fajari aku dengan suam bibirmu; saat lidahku mengebaskan kata-kata pada setangkup roti
aku termangu menyaksikan udara menyembilu dingin dan menyusup ke dalam kamar mandi
kembali kutemukan namamu membuat gemuruh suara angin topan; dimataku
tidakkah kita ingin begitu menunggu pulang ?
membelah biru lautan
mengepak barisan awan

0 comments:
Post a Comment