mar dan semut-semut di penghujung mata

/ /
di suatu malam ibu pernah menanggis memunggungi usianya. ibu pun hampir meraung saat nyala api mendidihkan air di atas sumbu kompornya yang hampir berkarat. tapi ibu enggan beranjak dan membiarkan bunyi ketel itu semakin melengking seperti kematian nenek di waktu subuh. mar saat itu sedang memandang keramaian di desanya dan ia mulai memikirkan betapa membosankan hidup menjadi tua dan betapa sulitnya mengusir semut-semut saat proses kematian merayap dari sela-sela kukunya suatu hari nanti. mar seperti merasakan kematian begitu dekat dengan tubuhnya. nafasnya seperti ikut terpenggal. mar, lihatlah! ibu berkata. kini desa telah membuat ukuran tubuhmu menjadi lebih kecil. tidak, bu. mar menjawab. tubuhku kini sudah menjadi lebih besar sehingga desa nampak begitu kecil bagiku. kemudian mar dan ibunya terdiam. mar merasa begitu akrab dengan jari-jari langit yang telah ia gapai dengan matanya sendiri.
mar seperti tak lagi memiliki keterikatan dan ketertarikan apa-apa di dunia ini. barangkali karena harapannya terlampau begitu besar, sehingga harapan-harapan itu dapat menyusut seperti balon-balon di udara dan menghilang. mar melihat ibunya sedang memandangi layar kaca dengan wajah yang begitu geram dan ia perhatikan arah gerak bibir ibunya terus beradu dari balik suara juga gambar yang ditampilkan. aku ingin seperti ibu! mar menghampiri ibunya. ibu ini hanya lulusan petani, mar, hanya mampu marah-marah di depan layar yang bisu dan tuli.

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 fragmenhujan, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger