bumi ibu

/ /
aku terlahir dari seorang maria dan tuhanku adalah mereka yang hidup lebih lama dari tamaknya bumi yang telah membatu di tanah kelahiran ibuku. "sini! kubawakan sebingkis matahari yang kuambil dari mata ibumu dan sebotol embun dari kakinya" seorang gadis mendatangiku kala nestapa memayungi relung kerinduan di ujung jemariku. aku terperanjat dan mendapati diriku berada dalam pekatnya pijar. aku hidup tanpa suara dan aku buta. namun sesungguhnya aku dapat berbicara dan melihat setiap gerak gerik mereka. disini, iya, ditempat aku mendiami hangatnya kelopak kesumba. diam-diam aku telah menjadi keriuhan pagi yang dinantikan sebelum semburat menerpa garis wajah. darah membalut tubuhku dan setiap gerak yang telah kuerangkan membuat setiap lubang vagina menggeliat. malam adalah pertempuran. aku merindu pada bumi ibuku. 

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 fragmenhujan, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger