barangkali kamu akan menertawakanku untuk takaran sebuah lagu berjudul 22 milik taylor swift. bahwa untuk mendengarnya seperti sebuah usia yang sedang mengalami masa kelabilan. namun kupikir ini adalah sebuah prolog yang akan menghantarkanmu kepada sebuah kisah yang tak akan asing untuk dapat kita rasakan sebagai manusia-lawan jenis; laki-laki dan perempuan pada umumnya. katakanlah bahwa ini sebuah kisah musiman ketika kita sedang merasakan sebuah letupan-letupan pada degup asmara kepada lawan jenis untuk sekedar saling menyapa, mengenal, atau bahkan menjadi sepasang kekasih. maka 22 adalah sebuah lagu ringan pada awal permulaan untuk saling tak memperdulikan apa yang akan menyusul di belakang punggungmu.
satu minggu adalah bentuk
pengulangan kisah percintaan yang akan menghantarkanmu ke dalam sebuah perayaan
dimana dua puluh dua akan kembali menjadi euphoria mesin waktu taman bermain
masa kanak-kanak. sekedar menikmati apa yang kita anggap menyenangkan tanpa
harus memperdulikan siapa kamu dan siapa aku. barangkali menjadi asing dan
jatuh cinta adalah pertautan tubuh manusia untuk melawan sebuah
rasa sepi yang terlampau membuat rasa nyeri di setiap kita terbangun dari sebuah
tempat tidur dan telepon selular yang tak kunjung berdering untuk sekedar membisikan selamat pagi.
jangan terburu-buru sebab dua
puluh dua masih menyimpan rima yang padanya meruap-ruap di setiap malam ketika
sebuah percakapan menjalar pada dinding kesemuan untuk menertawakan hal yang
tak kita ketahui untuk apa. dua puluh dua masih akan terus menarikan
keremangan ke dalam sebuah simbol tanya yang mengantung di antara pijar tubuh
yang tak utuh. pun dua puluh dua masih menyimpan seribu rahasia sejuta harap untuk sebuah langkah penantian.
kepada asing yang tak kuketahui lekuk dan garis kerut tawamu, aku termangu menunggu sebuah kepulangan sekedar mencium wangi pagi di pucuk keningmu. sebuah angan yang telah kita susun masih begitu lamban. tubuh ini masih merahasikan kelekatan yang tak dapat kita ulurkan, bahwa penjamahan barangkali adalah sebuah rasa; suatu saat, katamu, adalah kebenaran dari sekotak suara yang telah membunyikan kegilaan dari ujung telpon selularmu.
kepada asing yang tak kuketahui lekuk dan garis kerut tawamu, aku termangu menunggu sebuah kepulangan sekedar mencium wangi pagi di pucuk keningmu. sebuah angan yang telah kita susun masih begitu lamban. tubuh ini masih merahasikan kelekatan yang tak dapat kita ulurkan, bahwa penjamahan barangkali adalah sebuah rasa; suatu saat, katamu, adalah kebenaran dari sekotak suara yang telah membunyikan kegilaan dari ujung telpon selularmu.

0 comments:
Post a Comment